Hujan sore ini membuat keadaan terasa beda, karena sudah di penghujung jalanku di kota Gudeg ini. Tak terasa sudah empat hari aku berteduh dan tertidur nyenyak di tanah Mataram ini. Namun di sela-sela tatapanku, aku teringat akan sesuatu yang menjadi obat akan suasana seperti ini, ya, secangkir kopi panas yang mantap untuk dinikmati.
Seperti biasanya tetap dengan my gadget di tangan, komputer jinjing menyala dengan lagunya, menemaniku untuk melaju menuju malam biru, namun malam ini sepertinya bukanlah malam biru.
Tidak jadi alasanlah untuk tetap selalu menikmati kejadian-kejadian di sekitarku.
Lagi-lagi kopi panas ini menghangatkan suasana, suasana yang penuh dengan kegalauan. Apa yang aku pikirkan, ah bukan apa-apa, tidak usahlah berlebihan.
Di saat aku memegang gelas kopi dan akan meminumnya, aku jadi teringat tentang filosofi kopi yang pernah tertulis dari buku Filosofi Kopi, Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade (1995-2005) by Dee,
Kopi tubruk tidak peduli pada penampilannya, kasar, membuatnya pun sangat cepat. Seolah-olah tidak membutuhkan skill khusus. Tapi, tunggu sampai anda mencium aromanya. Kedahsyatan kopi tubruk terletak pada temperatur, tekanan, dan urutan langkah pembuatan yang tepat. Semua itu akan sia-sia kalau anda kehilangan tujuan sebenarnya: AROMA. Coba hirup dulu aromanya.
Hmmmmm…aroma lagi lagi aroma…karena AROMA itu penting.
Manusia tentu bisa membedakan aroma, aroma yang enak, biasa atau tidak enak. Karena dengan aroma itu bisa menimbulkan suatu akibat.
Aroma sedap membuat orang mencarinya, aroma biasa membuat orang biasa, aroma tidak enak membuat orang penasaran lantas memukulinya (lhoh, lha kentut kan aroma yang tidak enak, apalagi kentut di tengah2 kerumunan orang banyak, hahahahaha)